Mbawa adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Desa ini memiliki kodepos 84162


Tuhan tidak menjanjikan hari-harimu tanpa duka, kegembiraan tanpa penderitaan, tetapi ia sungguh menjanjikan kekuatan untuk menghadapi hari-harimu, penghiburan bagi air matamu, dan terang bagi jalanmu

Sunday, December 4, 2011

TRADISI ORANG DONGGO


Masyarakat Donggo juga memiliki hari besar tersendiri yang disebut sebagai Hari Raju. Pada hari tersebut dilakukan berbagi rangkaian acara perayaan. Dimulai dari musyawarah besar para ketua klan atau yang di sebut Ndo’i untuk menentukan hari Raju. Perayaan Hari Raju biasanya dilakukan pada bulan Oktober atau sebelum masa tanam selama 7 hari. Ada 12 Klan atau Ndo’i dalam masyarakat Donggo. Diantaranya adalah Ndo’i Tuta Rasa, Lanco ini, Ntifa Siwe dan Mone, Paha Woha, Soro Jara, Puta Nawa, Paninta, Roho, Karia Dewa, Lua Lembo dan Keto Rasa.
Biasanya para anggota Klan ini akan datang pada hari Raju untuk menghormati nenek moyang dan melakukan persembahan meskipun mereka telah hidup ber-anak pinak diluar daerah Bima. Setiap Klan dipimpin oleh seseorang yang dipercaya memiliki Rafu atau Shakti tertentu. Rafu winte, misalnya dipercaya mampu menyembuhkan penyakit. Sedangkan rafu Ngguli kebal terhadap berbagai senjata tajam.
Pada hari pertama perayaan biasanya dilakukan upacara persembahan ke tempat-tempat yang disucikan oleh masing-masing klan menurut Tottem-nya. Setiap Ndo’i memiliki tempat yang dianggap suci atau keramat. Jumlahnya ada 12 sesuai dengan jumlah Ndo’i dan berada di sekitar desa Mbawa. Klan Ndo’i Soro Jara misalnya, harus melakukan persembahan dengan memotong seekor kuda. Sebagaian dari persembahan tersebut diletakkan di tempat keramat tersebut dan sebagian lagi dibagikan kepada warga. Jika hal tersebut dilanggar atau tidak dilakukan, maka salah satu anggota keluarga akan terkena ‘tulah’ atau kutukan seperti penyakit dan kesialan lainnya.
Dari keseluruhan perayaan, biasanya acara yang paling dinanti-nati adalah acara perburuan yang dilakukan pada hari-hari ganjil dalam enam hari perayaan Raju. Mereka akan berburu hewan-hewan liar seperti ayam hutan, rusa, babi dll di hutan yang cukup lebat di sekitar perkampungan. ”Pada hari Raju, kami seluruh masyarakat Kristen maupun muslim mengadakan acara perburuan bersama. Sementara anggota masyarakat yang tidak berburu tidak diperkenankan meningalkan desa selama tujuh hari tujuh malam. Mereka melakukan bersih desa dan melakukan ritual pembasmian hama,” kata Fransiskus Mukhtar (25 Tahun).
”Ada ketentuan-ketentuan khusus dalam berburu tersebut. Biasanya hasil tangkapan yang kami dapat juga menentukan keberhasilan dalam bercocok tanam nantinya. Misalnya kalau yang banyak kami tangkap itu binatang betina, biasanya akan banyak hujan. Tetapi kalau jantan itu alamat susah air,” kata Lukas Idris (50 Tahun).
Pada hari terakhir atau ketujuh, diadakan upacara buang sial. Beberapa masyarakat akan pergi menuju Seralano di desa Tambe dan melemparkan sebutir batu kerikil ke sebuah tempat khusus. Begitulah adat dan kebiasaan masyarakat Donggo. Bagi para penganut agama yang cenderung puritan (baik Islam, Kristen maupun Katholik), apa yang mereka lakukan mungkin bisa dianggap bid’ah atau syirik. Tetapi bagi masyarakat Donggo sendiri, itulah tradisi warisan nenek moyang yang harus dilestarikan. Sebab tradisi tersebut tentu tidak lahir begitu saja.
Tradisi tersebut merupakan bagian dari proses panjang pembelajaran, bagaimana nenek moyang dou Donggo berinteraksi dengan alam dan sesamanya selama ratusan atau mungkin ribuan tahun. Melalui hasil pembelajaran tersebut masyarakat donggo  menemukan kearifan-kearifan tersendiri, bagaimana mereka mengelola dan memanfaatkan alam dengan ramah dan bersahabat. Saat ini wilayah Donggo merupakan wilayah yang subur dan makmur. Hasil pertanian mereka melimpah dan anak-anak mudanya banyak bersekolah hinga ke luar daerah….   Hingga Kini…..

No comments:

Post a Comment

Setelah anda membaca postingan di atas, silahkan ketik komentar anda di bawah ini