Mbawa adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Desa ini memiliki kodepos 84162


Tuhan tidak menjanjikan hari-harimu tanpa duka, kegembiraan tanpa penderitaan, tetapi ia sungguh menjanjikan kekuatan untuk menghadapi hari-harimu, penghiburan bagi air matamu, dan terang bagi jalanmu

Sunday, December 4, 2011

MUNCULNYA AGAMA KRISTEN DI DONGGO


Keberadaan budak atau orang-orang flores di bima diyakini membawa pengaruh Kristen ke masyarakat Donggo yang masih menganut kepercayaan Marafu terutama pasca meletusnya Tambora atau diera sultan Jamaludin III. Kedatangan para misionaris Katholik terutama setelah kesultanan Bima ditakhlukkan oleh Belanda juga semakin menguatkan ke kristen-an di wilayah ini. Romo Paulus yang menjadi Pastur Quasi Paroki (persiapan paroki) untuk wilayah Donggo mengatakan, bahwa sebelumnya agama kristen Protestan lebih dulu masuk ke wilayah Donggo dibanding agama Katolik. Tetapi karena misi itu terhenti dan umat tidak terpelihara maka pada tahun 1930-an, Frather Kiwus, seorang misionaris dari  Jerman melanjutkan misi tersebut dan berhasil membangun beberapa gereja dan sekolah di wilayah Donggo. Namun pada tahun 1968 hingga 1972 terjadi huru-hara dan pembakaran beberapa gereja serta sekolah yang dilakukan oleh masyarakat dari wilayah Sila yang dipimpin oleh H. Jamaludin.
Huru-hara itu memang konon dimaksudkan untuk meng-islam-kan orang-orang Donggo dan membendung kristenisasi. Beberapa masyarakat yang menganut agama selain Islam (kepercayaan Marafu dan Kristen/Katholik) dipaksa memeluk agama Islam. Beberapa benda peninggalan adat dirampas dan dimusnahkan, serta sebagian lagi sempat diselamatkan dan disimpan di museum ASI Bima.   Pemaksaan tersebut rupanya kurang berhasil, sebab masyarakat Donggo, sebenarnya lebih condong ke kepercayaan lama atau Marafu meskipun mereka menganut agama Kristen maupun Islam. Banyak masyarakat yang akhirnya pindah agama karena terpaksa dan kembali ke agama mereka manakala situasinya sudah mereda.
Tidak heran jika masyarakat Donggo tetap menggunakan nama Islam di belakang nama Baptis mereka. Beberapa bahkan tidak menggunakan nama Baptis sama sekali seperti Muhammad Ali (90 tahun) atau Sulaiman Ismail (11 tahun). Kamipun tak bisa menyembunyikan kekagetan dan tertawa tipis saat diperkenalkan dengan pak Muhammad Ali. Mungkin ia satu-satunya orang Katholik di dunia yang tetap memakai nama ‘Muhammad’, meskipun nama tersebut juga mengingatkan kepada petinju Negro-Amerika  yang sangat legendaris itu, tetapi Muhammad Ali Donggo lebih tua usianya dari Muhammad Ali yang justru menjadi Mu’allaf.
Hubungan antar agama, terutama Islam dan Kristen di masyarakat Donggo sendiri sebenarnya tidak terlalu ada masalah. Seperti yang diungkapkan oleh Jamaludin, cucu dari ‘Ncuhi Honte’ yang merupakan ‘Ncuhi Mbawa’ terakhir –dan diberi gelar Ncuhi Sangaji Lua Lembo oleh Sultan, –masyarakat Donggo memiliki kesadaran bahwa mereka adalah ‘serumpun’ saudara. ”Banyak dari kami yang satu keluarga berbeda agama, misalnya orang tuanya Katholik tetapi anaknya Islam atau sebaliknya, tetapi bisa hidup rukun dalam satu atap,” Ungkap lelaki 40 tahun yang memiliki nama baptis Stefanus ini.
Kalaupun ada masalah cukup serius, biasanya terkait dengan pernikahan beda agama. ”Biasanya kami orang kristen atau Katholik yang mengalah.maklum minoritas. Soalnya pernah terjadi beberapa kasus penganiayaan yang melibatkan orang luar ketika orang islam berpindah ke agama kami,” kata Yustina Sa’ida.
”Ada seorang gadis yang pindah agama, dia dianiaya oleh orang suruhan keluarganya hingga mengalami luka berat. Wah saya tidak habis pikir dan takut membayangkannya mas. Padahal agama itu kan mengajarkan kasih sayang dan tidak boleh ada paksaan dalam berkeyakinan. Meskipun kita berbeda agama, saya sendiri percaya kita menyembah Tuhan yang satu, hanya jalan dan caranya yang berbeda,” tambahnya dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Ada juga alasan mengapa ketika terjadi perkawinan antar agama ini, orang kristen cenderung masuk Islam. ”Masuk kristen itu tidak mudah mas. Untuk pernikahan saja ada semacam bimbingan selama 3 bulan. Belum lagi bimbingan dari seorang Katekis (guru agama) selama beberapa tahun jika mau masuk katholik, itupun belum tentu di Babtis,” kata salah seorang mu’allaf yang tidak mau disebutkan namanya.

                                                                                                             sumber: www.babuju.com

2 comments:

  1. Kemarin saya ke kampung ini dan cukup menarik sekali kerukunan beragama di sini. Ada seorang ibu mengatakan saat ada perayaan keagamaan besar setiap umat beragama menghadiri dan saling menghormati.

    ReplyDelete

Setelah anda membaca postingan di atas, silahkan ketik komentar anda di bawah ini